Sholat tahajjud merupakan sholat yang paling utama setelah sholat
fardhu. Ada banyak sekali keutamaan dan keistimewaan sholat tahajud ini.
Suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah, lalu ia (malaikat
Jibril) berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu karena kamu
akan mati, cintailah seseorang sekehendakmu karena kamu akan berpisah
dengannya, dan beramallah sekehendakmu karena kamu akan diberi balasan,
dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin itu ada pada shalat
malamnya dan tidak merasa butuh terhadap manusia.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh al Hakim, dishahihkannya dan disepakati Adz Dzahabi).
Rasulullah sendiri senantiasa sholat malam sampai kakinya
bengkak-bengkak sebagai wujud rasa syukur beliau terhadap karunia Allah.
Sholat tahajjud akan mendekatkan diri kita kepada Allah, menjauhkan
dosa, juga sebagai sebab diangkatnya derajat seseorang. Maka tak heran
jika Muhammad Al Fatih dan tentaranya mampu menaklukkan Konstantinopel
“hanya” karena semua pasukannya tak pernah meninggalkan sholat wajib
sejak baligh dan separuh diantaranya tak pernah meninggalkan sholat
tahajjud sejak baligh.
Satu hal yang tak kalah penting, dunia medis sudah membuktikan
manfaat sholat tahajud bagi kesehatan. Seperti diriwayatkan oleh
Tirmidzi dalam sebuah hadist, “Sholat Tahajjud dapat menghapus dosa,
mendatangkan ketenangan dan menghindarkan dari penyakit.” Dr. Muhammad
Sholeh dosen IAIN Surabaya pernah membuat penelitian desertasi berjudul
“Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon
ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi” dimana
disimpulkan bahwa apabila kita melakukan shalat tahajud secara rutin,
benar gerakannya, ikhlas dan khusyu’ niscaya akan terbebas dari penyakit
infeksi dan kanker. How come?
Dalam tubuh kita terdapat korteks adrenal yang menghasilkan beberapa
hormon, salah satu di antaranya adalah kortisol (biasa disebut hormon
stress), suatu hormon yang berpengaruh pada sistem kardiovaskuler,
keseimbangan metabolik, dan sistem imun. Kadar kortisol di dalam tubuh
sangat fluktuatif menyesuaikan dengan irama sirkadian. Pola umum irama
sirkadian adalah sekresi kortisol yang naik pada saat tengah malam dan
menjelang pagi. Jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara
38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24:00
normalnya antara 69-345 nmol/liter.
Kadar hormon ini juga akan meningkat manakala seseorang dalam keadaan
stress. Ketika kita sedang mengalami depresi atau stress karena tekanan
pekerjaan, aktivitas, atau diet yang ekstrem, kadar hormon kortisol
dalam darah akan meningkat. Sebagai akibatnya, kortisol yang berlebih
akan menyebabkan berkurangnya jumlah limfosit, suatu perangkat sistem
imun dalam tubuh. Apabila sistem imun dalam tubuh berkurang, maka akan
mudah sekali tubuh ini terserang berbagai macam penyakit.
Sholat tahajjud terbukti mampu menurunkan kadar kortisol pada saat
puncak sekresinya yaitu di atas jam 00.00 atau tengah malam. Pada tengah
malam, irama sirkadian memungkinkan hormon kortisol ini berada pada
kondisi yang tinggi. Apabila seseorang bangun malam untuk sholat
tahajjud dengan niat yang ikhlas, maka akan terbentuk energi positif
yang dahsyat bersumber dari komunikasi kita kepada Allah. Hal ini akan
berimplikasi pada ketenangan batin terbebas dari permasalahan duniawi
sehingga mengurangi derajat stress seseorang. Pada kondisi demikian,
secara otomatis hormon kortisol yang diproduksi pun akan menurun
sehingga tidak berdampak buruk pada sistem imun.
Logikanya jika usai mengerjakan sholat malam malah sakit, perlu
dicurigai kita tidak ikhlas menjalankannya. Ketika seseorang tidak
ikhlas dalam beribadah, sudah dapat dipastikan kita tidak mendapatkan
faedah dari ibadah itu sendiri. Sehingga tidak muncullah perasaan tenang
itu, yang berarti kita gagal mempengaruhi irama sirkadian untuk
menurunkan sekresi hormon kortisol. Maka ibadah haruslah ikhlas, juga
benar melaksanakannya agar kita mendapatkan manfaat dari ibadah yang
kita lakukan.
Semoga dapat bermanfaat ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar